Ditulis Oleh: Feby Ariyani
“Astagfirullah, Kak, Bapak ketendang!”
“Astagfirullah, Kak, Bapak kepukul!”
Kalimat itu sering terdengar di kamar kami. Meski menjadi sasaran tendangan dan pukulan saat tidur, bapaknya hanya tertawa. Sementara kakak tetap terlelap tanpa merasa bersalah.
Sejak kecil, kami terbiasa tidur berempat dalam satu kasur ukuran queen bed. Bapak dan ibu di tengah, kakak di sisi bapak, dan adik di sisi ibu. Kakak senang tidur di ketiak bapaknya, sedangkan adik selalu mencari kaki ibunya untuk ditindih. Rasanya hangat dan menyenangkan. Ketika mengenang momen itu, saya dan suami selalu tersenyum. Ternyata kebersamaan yang dulu terasa biasa saja kini menjadi kenangan yang begitu berharga.
Waktu berlalu cepat. Menjelang masuk SMP, tubuh kakak semakin tinggi dan besar. Kasur yang dulu terasa luas mulai terasa sempit. Kami sadar bahwa sudah saatnya kakak belajar tidur di kamar sendiri. Namun ternyata, ada satu hal yang menghambatnya.
“Aku takut, Bu.”
“Takut apa, kak?”
“Takut ada hantu.”
Saya memandang wajahnya yang serius. Saat itu saya menyadari bahwa ketakutan anak tidak boleh ditertawakan. Bagi kita mungkin sederhana, tetapi bagi mereka rasa takut itu nyata.
Saya duduk di sampingnya dan berkata, “Kak, kadang rasa takut membuat kita membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Kakak rajin berdoa, bukan? Allah SWT selalu menjaga hamba-Nya yang memohon perlindungan.”
Ia terdiam sejenak lalu mengangguk. Untuk membangun rasa percaya dirinya, kami mengajaknya memilih sendiri perlengkapan kamar yang ia sukai. Malam pertama, saya menemaninya hingga tertidur. Saat melihatnya sudah lelap, saya kembali ke kamar bawah. Pagi harinya ia turun sambil mengomel.
“Ibu, kenapa aku ditinggal?”
Saya tersenyum. “Semalam ada sesuatu yang menakutkan?”
Ia menggeleng.
“Nah, berarti Kakak berhasil.”
Sejak saat itu keberaniannya tumbuh perlahan. Yang membuat saya terharu, adiknya yang jauh lebih penakut justru berkata, “Bu, aku juga mau punya kamar sendiri. Kan ada Kakak di kamar sebelah.”
Mendengar itu, hati saya terasa hangat. Saya dan bapak saling berpandangan lalu tersenyum. Rupanya keberanian memang dapat menular kepada orang-orang terdekat. Dari pengalaman sederhana itu, saya belajar bahwa kita tidak mungkin selalu berada di samping mereka sepanjang hidup. Namun kita bisa hadir untuk mendengarkan, menemani, menguatkan, dan meyakinkan bahwa mereka mampu melewati rasa takutnya. ***
Pesan Moral :
“Tugas orang tua bukan menghilangkan semua ketakutan anak. Tugas kita adalah menemani mereka menghadapi ketakutan itu sampai mereka menemukan keberaniannya sendiri. Karena keberanian tidak lahir dari ketiadaan rasa takut, melainkan dari keyakinan bahwa mereka mampu melewatinya.”

